Alasan Mengapa Saya Tidak Minum Herbalife

WARNING!
Artikel ini adalah untuk informasi saja. Informasi dalam tulisan ini didasarkan pada pengalaman dan pemikiran saya sendiri berdasarkan penelitian yang tersedia. Ini bukan nasihat medis. Saya bukan dokter dan saya tidak bertanggung jawab atas hal yang merugikan anda dalam bentuk apapun yang disebabkan oleh artikel ini. Konsultasikan dengan dokter anda sebelum memulai diet apapun. Selamat membaca.
mengapa saya tidak minum HERBALIFE?
Bagi yang punya masalah dengan berat badan, pasti kenal dengan produk buatan Amerika ini. Ya, Herbalife mulai populer di Indonesia sekitar 5 tahun belakangan ini. Produk ini tidak dijual bebas di alfamart, indomart ataupun apotik, tapi dijual khusus oleh orang-orang atau instansi tertentu yang merupakan member resmi dari Herbalife itu sendiri. Alasannya? Karena ada suatu keharusan bahwa jika menggunakan produk ini, maka kita harus didampingi secara pribadi oleh ahli nutrisi dari Herbalife itu sendiri agar program diet kita berhasil.
Herbalife sendiri dijual melalui sistem MLM, sebagaimana umumnya yang memiliki downline dan upline. Ada “hadiah” tersendiri bagi anggota yang berhasil menjual produk berupa poin-poin tertentu yang saya belum terlalu paham.
Satu hal yang saya kurang suka dari sistem MLM adalah, adanya kecenderungan dari anggotanya untuk memaksa atau bahasa halusnya “memprospek” orang lain agar membeli produknya. Entah apapun alasannya; biar lebih sehat, lebih cantik, atau lebih mempermudah suatu pekerjaan.
Sebenarnya sudah sejak SMA saya tahu ada produk bernama herbalife yang “katanya” ampuh mengurangi atau menambah berat badan, disertai puluhan testimoni dari konsumennya. Tapi perkenalan saya dengan herbalife yang lebih mendalam dimulai ketika menginjak tahun ke-3 saya kuliah di Surabaya.
Senior saya adalah salah satu marketing dari herbalife. Pada awalnya dia hanya sekedar mengajak saya untuk timbang berat badan saja, dengan alat timbangan khusus yang bisa menghitung masa lemak, otot, kadar air, dll. Bagi yang pernah nge-Gym pasti tahu alatnya.
Sebelum lanjut lebih jauh, saya ingin menceritakan sedikit tentang keadaan tubuh saya.
Ketika umur saya 19 tahun dan ketika saya masih hoby makan junk food dan menerapkan pola hidup tidak sehat, hasil dari alat itu mengatakan bahwa saya harus megurangi berat badan saya hingga hampir 5kg dan saya juga diharuskan menambah masa otot. Selain itu umur metabolisme saya adalah 23 tahun. Yang berarti 4 tahun lebih tua dari umur saya. Pertanda buruk.
Ketika umur saya menginjak 20 tahun, berkat kenal dengan buku-buku karya Dr. Tan Shot Yen dan Anthony Robbins, untuk kehidupan dan masa depan yang lebih baik saya mulai mengubah pola hidup dan pola makan saya, menjadi lebih sehat. Saya makan banyak buah dan sayur, karbohidrat dan lemak baik, tidak makan junk food, dan banyak olah raga. Hasilnya, ketika mencoba timbagan yang sama pada awal november 2015 lalu, umur metabolisme sel saya adalah 19 tahun.
yes i’m not getting older, but i’m getting younger!
Masa otot saya bertambah, dan kelebihan lemak saya berkurang, meskipun saya tetap diharuskan untuk mengurangi massa lemak sekitar 3kg. Keinginan saya untuk menjalani pola hidup dan pola makan sehat semakin meningkat.

Singkatnya, karena penasaran, akhirnya saya setuju memenuhi permintaan senior saya untuk ditimbang. Hasilnya? Alhamdulillah keadaan tubuh saya semakin membaik. Saat ini berat badan saya 56 Kg, tinggi 167cm, umur metabolisme 18, kadar air, kondisi fisik, dan massa otot, termasuk katagori baik. Meskipun saya disarankan untuk mengurangi masa lemak sekitar 2kg hingga bisa dikatakan tubuh saya benar benar “sempurna”
Oke, sampai disini tidak ada masalah.
Masalah muncul setelah penimbangan selesai. Bisa ditebak kan? Saya langsung diprospek untuk membeli produk herbalife. Entah itu milkshake, teh, aloe vera, dll, dsb. Alasannya? Supaya saya bisa dengan cepat membakar lemak yang 2kg itu, supaya saya punya stamina dan energi yang baik, dan supaya bisa membuang (detoksifikasi) racun racun dalam tubuh.
Saya diberi “resep” makanan & produk herbalife yang ketat dengan perhitungan kalori yang saaangat rinci. Resep itu harus dituruti jika mau dietnya berhasil. Oh my god, bukankah itu terlalu berlebihan? Bukankah itu menyusahkan? Sejak kapan sih angka-angka seperti itu muncul dalam kehidupan manusia? Dan bukankah Makan dengan aturan-aturan berdasarkan perhitungan angka bukanlah hal yang “kodrati”?
Selama ini saya makan makanan yang sehat seimbang (tidak hanya dari bahan makanannya, tapi juga proses megolahnya), rutin olah raga, dan istirahat teratur, terbukti tubuh saya semakin sehat dan bugar. Dan saya melakukannya tanpa pernah memikirkan masalah perhitungan kalori sama sekali!
Mungkin akan timbul pertanyaan “jika kita tidak mengatur jumlah kalori dalam makanan, bukankan nanti bisa tambah gemuk?” memang benar, tapi itu terjadi hanya jika kita makan makanan yang “tidak dibutuhkan tubuh” seperti makanan dengan nilai Glikemiks Indeks tinggi, atau makan makanan yang tidak diproses dengan baik, misalnya digoreng.
Sebaliknya,jika kita banyak konsumsi sayur dan buah (sayur dan buah itu karbohidrat loh), cukup protein yang sehat (tidak digoreng, tumis, atau dibakar kecuali dibungkus terlebih dahulu dengan daun pisang), dan juga lemak yang baik (misalnya Extra virgin olive oil, alpukat, atau kemiri), maka tubuh kita akan kenyang lebih lama dan otomatis kita berhenti makan karena memang tubuh kita sudah memberi sinyal “cukup”. Jadi, tidak perlu ada yang namanya perhitungan kalori (kecuali jika kita melakukan olahraga atau pekerjaan berat).
Memang benar bahwa pola makan yang memperhitungkan kalori bisa efektif dalam menurunkan atau menaikkan bert badan. Jika anda suka cara merepotkan seperti itu, silahkan.
Tapi saya tidak. Saya tidak suka jika acara makan saya harus dibebani dengan pikiran “harus sekian kalori”. Bagi saya menerapkan pola makan dan pola hidup sehat seimbang saja sudah cukup.
Jika mau tambah berat badan, maka tambah porsi makanannya. Jika mau mengurangi berat badan, maka kurangi porsi makanannya dan tambah porsi olah raganya. Sesederhana itu.
Oke, kembali ke topik utama.
Tidak lama setelah saya diberi resep, seorang dokter dari Herbalife mendatangi saya dan memberi penjelasan terkait resep yang ada di tangan saya. Singkat cerita, setelah panjang lebar menjelaskan, ada satu hal yang aneh menurut saya yang tidak dijelaskan oleh dokter ini. Memang dalam resep disebutkan ada menu seperti ayam, ikan, tempe, dll. Tapi sama sekali tidak ada himbauan bagaimana cara mengonsumsinya! Saya pun bertanya pada sang dokter:

Saya : “Dok, kenapa tidak disertakan juga cara mengonsumsi makannnya?”
Dokter : “Maksudnya?”
Saya : “oh begini. Disini dikatakan saya harus makan ikan. Tapi ikan seperti apa? Apakah yang digoreng sampe kering juga boleh?”
Dokter : “oh gitu. Iya digoreng juga boleh kok. Gak masalah”
Saya : (dengan nada kaget) “loh, digoreng boleh? Kenapa boleh? Bukannya gizi ikan yang digoreng sudah rusak dan tidak baik bagi kesehatan?”
Dokter : “Iya, tapi kalo di kita, memang gak ada aturan seperti itu. Ikan mau diapain aja juga boleh. Memang lebih bagus kalo dikukus atau rebus, sih.”
Saya : *Speechless...

Bagi kalian yang bergelut dalam dunia kesehatan, pasti merasakan keanehan pada dokter itu. Ya, ini pertama kalinya saya dengar ada dokter yang tidak mempermasalahkan makanan yang digoreng!
Coba tanya pada semua dokter di muka bumi (yang netral dan tidak berada pada kuasa suatu produk), maka kalian pasti sepakat bahwa semua dokter akan mengatakan bahwa makanan yang digoreng tidak baik bagi kesehatan, dan tentunya, akan menyarankan untuk tidak menggoreng makanan, apalagi ikan.
Tapi dokter yang satu ini dengan polosnya berkata “kalo di kita, digoreng gak masalah”. Sungguh betapa mengerikannya ketika institusi kesehatan berada pada kuasa suatu produk, sampai-sampai mengabaikan kaidah yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan.
Praktisi kesehatan, institusi kesehatan, dinas dan mentri kesehatan, seharusnya terbebas dari belenggu-belenggu produk tertentu. Karena ketika mereka berada dibawah “kuasa” produk tertentu, maka mereka akan merasa punya agenda atau kepentingan tersendiri, yang membuat penilainnya menjadi tidak netral dan berat sebelah.
Kembali ke bahasan semula.
Setelah bertemu dengan dokter itu, saya kembali ngobrol dengan senior saya. Saya bertanya tentang berapa rupiah yang harus dikeluarkan jika kita mau menggunakan produk herbalife? Jawabanyya “tergantung keadaan. Tapi kisaran Rp 900.000 s/d 3.000.000 per bulan.” Oh my god, saya kembali tersentak hingga kesekian kalinya.
Saya kembali melontarkan pertanyaan; “Berapa lama kamu mau mengonsumsi herbalife?”.
“yaa, kalo bisa seumur hidup”, jawabnya.
 Kesimpulan:
Disini saya tidak menjelek-jelekkan herbalife. herbalife adalah produk yang bagus, dan saya banyak melihat teman teman saya yang obesitas kembali langsing berkat herbalife.
Tapi alasan mengapa saya tidak menggunakan herbalife adalah:
1.Saya tidak mau menggantungkan hidup saya pada produk buatan pabrik.
2. Saya bisa mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar dengan pola hidup dan pola makan sehat seimbang yang kini sedang saya jalani. So, rasanya tidak perlu keluar uang jutaan untuk Herbalife
3. Saya tidak suka jika acara makan saya harus terbebani dengan aturan perhitungan kalori.
4. Walau bagaimanapun marketing herbalife berpromosi tentang bagusnya produk tersebut, tapi mereka harus sadar bahwa harga dari produk tersebut tidak bisa dijangkau oleh semua kalangan. Masyarakat butuh solusi sehat yang lebih “masuk akal”. Seperti meningkatkan konsumsi buah, sayur, tempe, dan telur misalnya.
5. Saya kurang suka dengan sistem MLM yang cenderung memaksa konsumen, apalagi jika pelakunya hanya berorientasi uang semata. Kebayang kan, jika saya yang hanya perlu mengurangi 2kg saja terus diprospek, bagaimana mereka yang harus mengurangi lebih dari 10kg??
6. Adanya ketergantungan baik dari penjual dan pengonsumsi Herbalife bahwa Herbalife adalah satu-saunya makanan di muka bumi yang bisa membuat mereka sehat.
7. Herbalife adalah produk yang baru tercipta 35 tahun. Kita belum tahu apa dampak negatif dari mengonsumsinya dalam jangka panjang. Apalagi jika sampai merasa harus “minum sampai mati”. Cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung, produk buatan pabrik yang tidak alami pasti punya dampak negatif bagi tubuh.

Tapi jika anda punya uang berlebih dan malas menyiapkan makanan yang alami, mungkin Herbalife bisa jadi solusi.
So, pilihan ada di tangan anda.

Refrensi:
Dr. Tan Shot Yen, 2012, “Sehat Sejati Yang Kodrati”, Jakarta: Erna Rakyat
Dr. Tan Shot Yen, 2015, “Nasehat buat Sehat”, Jakarta: Erna  Rakyat
Anthony Robbins, 1996, “Unlimited Power”, Jakarta: Pustaka Delapratasa

Komentar